Budaya dari Jawa Timur, Tari Bapang

Hiburan —Kamis, 15 Jul 2021 10:43
    Bagikan  
Budaya dari Jawa Timur, Tari Bapang
image/pinterest

MALANG,DEPOSTMALANG


Malang Raya atau sering dikenal dengan wilayah metropolitan Malang, merupakan gabungan dari tiga wilayah, yaitu Kota Malang, Kabupaten Batu, dan Kabupaten Malang, dimana kota Malang sebagai pusatnya. Selain menjadi salah satu pusat kota pelajar di Provinsi Jawa Timur,
Bapang adalah salah satu tokoh dari sendratari yang ada di Malang. Tokoh ini juga sering disebut sebagai jaya sentika. Bapang adalah salah satu tokoh yang ada dalam repertoar cerita "Panji" salah satu cerita drama tari yang ada di Malang.


Mengulas seni dan budaya tentu tak akan ada habisnya, apalagi seni budaya khas Malang. Salah satunya adalah Tari Topeng Bapang. Kewajiban kita bersamalah untuk menjaga dan melestarikan seni budaya asli Malang.

Terlepas dari semua ini, antusias masyarakat menanggapi positif. Terutama para generasi milineal saat ini. Terbukti dengan rutinitas mereka mengikuti edukasi dan pelatihan pada salah satu wadah di Pasar Seni Bareng Kota Malang.


Sebagai destinasi wisata, Malang Raya tidak hanya menawarkan keindahan alamnya saja. Kota Malang juga memiliki banyak karya seni dan budaya. Salahsatunya adalah seni topeng.

Menurut sejarah, salah satu pusat persebaran seni topeng di tanah Jawa, adalah di Malang, Jawa Timur. Indonesia memiliki banyak daerah penghasil seni topeng, sehingga penyebutan nama berdasarkan pada daerah penghasil seni topeng itu sebagai identitas hasil budaya tradisional setempat. Topeng yang dibuat dan berkembang di Malang, dikenal dengan sebutan Topeng Malangan.


Kesenian topeng sudah dikenal dan dimiliki oleh sebagian besar masyarakat di pelosok Nusantara dalam kurun waktu yang telah lama.Topeng dipandang bukan hanya sekedar benda seni saja, tetapi topeng dibuat pada mulanya sebagai penggambaran simbolis untuk menghormati roh nenek moyang. Dalam salah satu catatan sejarah, topeng telah dikenal sejak zaman kerajaan Kanjuruhan, raja Gajayana. Dikatakan pada masa itu topeng pertama terbuat dari emas dan dikenal dengan istilah Puspo Sariro, yang berarti bunga dari hati yang paling dalam. Topeng pada masa itu merupakan tradisi kultural dan religiusitas.

BACA JUGA: Awas Ketagihan!!! 5 Oleh-oleh Khas Malang yang Wajib di Bawa Pulang


Sejarah munculnya topeng di Kedungmonggo, Kabupaten Malang, Jawa Timur sebagai salah satu dusun penghasil topeng Malang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Sayangnya ketepatan waktu tahun munculnya belum dapat dipastikan. Namun telah ada ketika Kabupaten Malang dipimpin oleh bupati Malang yang bernama Raden Sjarip bergelar Adipati Suryo Adiningrat pada tahun 1890an. Daerah-daerah tempat lahirnya topeng Malang yang masih dikenal di wilayah Kabupaten Malang diantaranya desa atau dusun Tumpang, Tulus Besar, Glagahdowo, dan Kedungmonggo. Sayangnya eksistensi topeng Malang di beberapa daerah tersebut sudah mulai surut.

Sampai saat ini wilayah yang masih cukup eksis dalam pelestarian topeng Malang adalah Dusun Kedungmonggo yang merupakan salah satu dari kantong persebaran seni budaya topeng Malang dan dikenal sebagai basis tumbuhnya topeng Malang.
Dusun Kedungmonggo terletak di Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Terletak di sebelah selatan Kota Malang, kurang lebih 10 kilometer dari pusat kota.

Secara geografis Dusun Kedungmonggo berada di kaki gunung Kawi. Dusun Kedungmonggo merupakan satu dari daerah pertumbuhan topeng Malang yang tergolong tua dan kuno di Kabupaten Malang. Hingga saat ini sudah mencapai generasi kelima. Di dusun inilah, terdapat sanggar seni Asmorobangun yang didirikan oleh maestro topeng Malangan, Karimoen.


Topeng Malangan memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri khas terletak pada pemaknaan bentuk hidung, mata, bibir, warna topeng dan ukirannya. Untuk warna, topeng malang memiliki 5 warna dasar, yaitu merah, putih, hijau, kuning dan hitam. Dimana masing masing warna berfungsi sebagai simbol dari karakter topeng atau tokoh yang diperankannya. Putih mewakili sifat jujur, suci dan berbudi luhur. Kuning menggambarkan kemuliaan.

Hijau menggambarkan watak kedamaian. Merah menggambarkan angkara murka, licik atau bisa juga keberanian. Hitam menggambarkan kebijaksanaan. Ukiran atau ragam hias pada topeng Malang, biasanya berupa urna di bagian kening. Melati, kantil, teratai jamang, pada bagian dahi dan irah-irahan atau tutup kepala yang mewakili sifat kebangsawanan.

Editor: Ajeng
    Bagikan  

Berita Terkait