Pemprov Jabar Kembangkan Program OPOP, “One Pesantren One Product”

News —Minggu, 24 Apr 2022 19:28
    Bagikan  
Pemprov Jabar Kembangkan Program OPOP, “One Pesantren One Product”
Melalui Program OPOP, pesantren menghasilkan produk-produk unggulan dengan pemasaran yang kian luas.* (FOTO: Biro Adpim Jabar)

POSTMALANG (KAB. BEKASI),- Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersilaturahmi di Pondok Pesantren Pink 03, salah satu Pesantren penerima bantuan Program “One Pesantren One Product” atau OPOP, di Kabupaten Bekasi, Sabtu (16/04/2022). Pada kesempatan itu Gubernur mengapreasiasi keberhasilan pesantren yang dapat menghasilkan produk-produk unggulan dengan pemasaran yang kian luas.

Program OPOP merupakan salah satu dari 17 Program untuk mewujudkan Pesantren Juara, yang bertujuan mendorong pesantren di Jabar lebih mandiri. Sebagai upaya untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat yang bertujuan untuk pengembangan ekonomi keumatan, OPOP diharapkan dapat mengikis ketimpangan gini rasio. Juga menekan aktivitas urbanisasi.

"Ada sekitar 270 pesantren  yang menjadi peserta baru. Sehingga dari total, sebanyak 2.574 pesantren lulusan Program OPOP di Jabar berhasil naik kelas sebagai pesantren mandiri secara ekonomi," tutur Kang Emil.

Dalam acara tersebut, Kang Emil menyaksikan bazar produksi Pesantren Pink 03 dari Program OPOP, diantaranya cairan pencuci piring, makanan tradisional olahan pesantren, obat herbal, dan camilan. Menurutnya, produk unggulan dari pesantren ini akan segera didaftarkan ke E-Katalog sebagai upaya peningkatan ekonomi nasional.

"Kita melihat produk-produk luar biasa di tempat yang barokah di Pesantren Pink 3 Kabupaten Bekasi ini dengan sejumlah produk unggulan, diantaranya sabun cuci, air mineral dan lain-lain," ungkap Kang Emil.

"Sesuai dengan arahan Presiden untuk peningkatan penggunaan produk dalam negeri, saya titipkan agar OPOP di Pesantren Pink 03 dinaikan ke E-Katalog, sehingga nanti kita bisa membeli produk kebutuhan pemerintah di E-Katalog, salah satunya dimaksimalkan produk pesantren," imbuhnya.

Kang Emil juga berharap, tahun depan target 5.000 pesantren yang bergabung dalam Program OPOP bisa tercapai karena. Hal ini untuk membuktikan bahwa semangat wirausaha di pesantren dan digitalalisasi tak hanya milik warga perkotaan. Melainkan juga warga di perdesaan yang menjadi basis keberadaan pesantren.

"Mudah-mudahan di akhir tahun depan target 5.000 pesantren bisa tercapai, sehingga kemandirian ekonomi di Jawa Barat bisa terwujud, dakwahnya maju dan kemandirian ekonomi pun maju," pungkasnya.

 

Baca juga: Nonton Kelanjutan Drama Korea “Soundtrack No 1” Episode 3 Subtitle Indonesia

OPOP Juara, target pemasaran diperluas ke pasar ritel

Pemilik Pesantren At Taufiq di Sukawangi, Kabupaten Bakasi, Ummi Siti Jubaedah, memiliki pandangan jauh bagi para santrinya. Menurut Ummi, selain menimba ilmu, santri saat lulus juga harus berdaya dalam mencari penghasilan. Ilmu agama didapat, kehidupan ekonomi juga meningkat.

"Saya ingin santri setelah lulus bagus dalam agama dan memiliki kemampuan dan ilmu lain seperti membuat produk sabun dan herbal," kata Ummi disela kunjungan kerja Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bertemu dengan Pengurus Pesantren Wilayah Kabupaten dan Kota Bekasi penerima manfaat Program OPOP (One Pesantren One Product), di Kabupaten Bekasi, Sabtu (16/04/2022).

Pesantren At Taufiq memiliki lebih dari 100 santri. Ummi sama sekali tidak menarik bayaran kepada para santri alias gratis. Dana pengelolaan selama ini selain berasal dari sumbangan, juga lebih banyak dari kegiatan ekonomi yang berlangsung di dalam pesantren.

Ia bercerita mendapatkan bantuan Program OPOP dari Pemprov Jabar dalam hal ini Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jabar pada 2019. Bantuan yang diperoleh berupa dana Rp 500 juta plus Rp100 juta dari Pemkab. Bekasi.

Sebelum mendapatkan bantuan OPOP, Pesantrennya memiliki usaha pembuatan sabun herbal. Sabun dengan bahan dasar minyak sawit, zaitun, sari herbal dan lain-lain itu diproduksi dengan cara tradisional oleh para santri.

Selain sabun herbal, Pesantren At Taufiq juga menjual obat herbal. Selama ini di lahan pesantren ditanami lebih dari 130 jenis pohon herbal yang menjadi bahan baku sabun dan sekaligus obat herbal antara lain daun bidara, dan bunga telang. Inilah yang kini menjadi produk sampingan dari Pesantren At Taufiq, bahkan kini sudah merambah skin care herbal, dan pendidikan pelatihan komputer bagi masyarakat sekitar.

Dengan bantuan modal OPOP, ia kemudian memakainya untuk membeli alat-alat produksi pembuatan sabun herbal agar lebih modern, di antaranya membeli mixer besar, mesin potong, alat pres, alat pembuat kemasan, hingga alat cetak. Kini sabun herbal Ummi memiliki kemasan yang cantik dan layak dijual.

Ia mengaku sanggup meningkatkan produksi karena peralatan sudah modern. Saat ini saja sudah mampu memproduksi sekitar 200 kotak sabun herbal per bulannya.

Dengan penambahan alat produksi, pembuatan sabun herbal di Pesantren At Taufiq semakin meningkat. Kini dalam sehari pesantren bisa membuat hingga 20 kg sabun herbal kemasan. Saat ini, penjualan masih dilakukan di antara komunitas pesantren dan sekolah. Ia berharap produknya bisa dijual ke supermarket.

Ummi berharap ada bantuan lanjut dari pemerintah untuk mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) agas bisa masuk pasar ritel.

Hal yang sama disampaikan Direktur Produksi dan Pemasaran Sabun Pesantren Pink 03 Kabupaten Bekasi Dedi Yunus, yang memproduksi sabun bermerek King Clink.

"Kami mempunyai produk sabun cair, yang selama ini untuk kalangan pesantren. Sebab belum ada izin BPOM, jadi belum bisa dipasarkan lebih luas," tutur Dedi.

Saat ini pasar hanya di sekitar pesantren termasuk santri dan keluarganya. Santri di Pesantren Pink 03 saat ini mencapai 2.700 orang setingkat sekolah dasar hingga SMA.

Dedi berharap kemudahan mendapatkan bahan baku khususnya bahan kimia sebagai bahan pembuatan sabun. Pasalnya sejak pandemi, mereka kesulitan mendapatkan bahan baku tersebut.

Laris manis di Mandalika

Pesantren Thariqul Jannah Kota Bekasi patut berbangga karena produk seprai dan handuknya laris manis di ajang MotoGP di Mandalika, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Pesantren yang berlokasi di Jalan Horison Kota Bekasi itu, kini memiliki lebih dari 100 orang santri yang terdiri dari duafa dan lansia produktif.

 

Baca juga: Nonton Kelanjutan Drama Korea “Soundtrack No 1” Episode 2 Subtitle Indonesia

Thariqul Jannah menjadi salah satu satu dari pesantren juara yang mendapatkan bantuan Pemprov Jawa Barat dalam hal ini Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jabar yang ikut berpameran di Mandalika.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Provinsi Jabar Kusmana Hartadji mengemukakan, pameran produk UMKM, OPOP (One Pesantren One Product), serta Kreasi Jabar di Mandalika sangat strategis terutama dalam memperkenalkan produk UMKM Jabar ke pasar dunia.

“Event motor GP merupakan ajang internasional yang banyak dihadiri penonton dari dalam, maupun luar negeri,” kata Kusmana di sela kunjungan kerja Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Ponpes Pink03, Kabupaten Bekasi, Sabtu (16/04/2022).

“Untuk handuk dan kaus produk pesantren di hari kedua sudah ludes terjual. Kemudian produk Tumbler Bambu produksi MQ Art UMKM Juara juga laris manis. Bahkan perajin Bambu NTB memborong produk MQ Art,” ujarnya.

Penanggung Jawab Pesantren Thariqul Jannah Kota Bekasi Farid Ukbah mengaku sangat beruntung mendapatkan bantuan OPOP dari Pemda Provinsi Jabar. Tahun 2021 mereka menjadi juara dan mendapatkan bantuan Rp500 juta.

Ia menuturkan, pesantrennya sudah sejak tahun 2014 memiliki usaha pembuatan seprai dan handuk. Dengan adanya bantuan dan pelatihan dari Dinas KUK Jabar tahun 2021, mereka mampu membuat beberapa produk baru seperti bed cover. Dana bantuan kemudian digunakan untuk membuat rumah produksi baru dan galeri produk.

Kini produksi pesantren meningkat hingga 40 persen. Omzet juga naik hingga 50 persen atau sekitar Rp 60 juta per bulan.

"Kami mulai produksi menambah produk bantal, guling dan piyama. Produk lain mungkin akan muncul karena kami juga memiliki pusat pelatihan bagi santri dan masyarakat sekitar," ujarnya.

Menurut Farid, dengan Pelatihan Manajemen melalui Program OPOP sangat membantu, dan dirinya memperoleh banyak ilmu baru terutama dalam mengelola perusahaan secara profesional, meski di lingkungan pesantren.

"Yang sangat dibutuhkan bagi pesantren adalah pelatihan. Sebab disana diberikan cara untuk mengurus izin, sertifikasi halal, hingga mengurus SNI. OPOP memberikan pencerahan," katanya.

Dari pelatihan yang didapatnya, pesantren kini melek manajemen perusahaan, bahkan sudah bisa membuat laporan keuangan yang baik.

“Kami juga belajar penjualan online, meski tentu persaingan juga ketat," ungkap Farid.* (Bersumber dari siaran pers / TISHA S KANILAH)

Baca juga: Upaya Penerjemahan Kitab Babad Padjadjaran, Momentum Membuka Sejarah Jawa dan Sunda

Editor: Zizi
    Bagikan  

Berita Terkait